KOTA BEKASI – Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi membantah tudingan sebagian kalangan yang menyatakan perjalanan dinas ke Ukraina pada pekan lalu merupakan pemborosan anggaran.
Secara tegas, Wali Kota mengatakan kunjungan tugasnya bersama beberapa kepala dinas itu murni menggunakan dana pribadi meski merupakan bagian tugas negara.
“Saya sudah mendapat ijin dari negara. Ini diminta langsung oleh Duta Besar yang diberikan kuasa oleh Presiden RI untuk menjadi duta besar di tiga negara, yakni Armenia, Ukraina, dan Georgia. Saya diundang atas nama negara, yang pertama perspektifnya adalah terkait penataan kota,” jelas Rahmat Effendi saat ditemui di kantornya Jl Ahmad Yani Bekasi, Jawa Barat pada, Selasa (27/9).
Dari hasil kunjungannya itu, Wali Kota menceritakan kondisi Ukraina yang merupakan wilayah bekas jajahan komunis.
“Kota yang berpuluh-puluh tahun dijajah oleh komunis ini gak diketemukan adanya tempat sampah tapi bersih, infrastruktur jalannya bagus, utilitasnya tertata,” ungkapnya.
“Di Ukraina ini, Pemerintah RI diberikan konsesi tanah seluas 5.000 meter persegi untuk membangun paviliun Rumah Indonesia, dan nanti Presiden yang meresmikan. Sebelum diresmikan, kita sudah diajak melihat-lihat dulu oleh Duta Besar disana,” ujar Wali Kota.
Wali Kota lalu menyebutkan dalam ijinnya, dia diperbolehkan menggunakan anggaran dari APBD Kota Bekasi, menggunakan uang negara.
“Tapi saya tahu kalau saya berangkat pakai uang negara, maka akan bertambah interpretasinya. Makanya lebih baik saya bayar sendiri, saya berangkat, atas ijin negara,” ungkapnya.
Dengan langkah ini, Wali Kota justru menyatakan telah mengurangi beban biaya yang harus dikeluarkan negara.
“Berarti saya sudah mengurangi beban negara dong, dan hasilnya Insya Allah akan saya realisasikan demi melakukan penataan kota yang lebih baik di Kota Bekasi,” pungkasnya. (Adv)









