JAKARTA – 15 klub Liga 1 mengancam untuk mogok tidak melanjutkan kompetisi lantaran PT Liga Indonesia Baru selaku operator kinerjanya kurang baik dimata mereka. Mereka menilai PT LIB tidak menjalani tata kelola yang baik seperti diamanatkan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo sebelum kompetisi dimulai.
Tak hanya itu tiga aspek yakni aspek bisnis, aspek legal dan aspek teknis tidak dipenuhi PT LIB kepada klub peserta 15 Liga 1 diantaranya transparansi share hak siar pertandingan.
15 klub itu diantaranya Arema FC, Barito Putera, Bhayangkara FC, Madura United, Mitra Kukar, Persegres Gresik United, Persela Lamongan, Perseru Serui, Persiba Balikpapan, Persija Jakarta, Persipura Jayapura, PSM Makassar, Borneo FC, Semen Padang dan Sriwijaya FC. Mereka menuntut PT LIB untuk menyelesaikan tiga aspek yang menjadi permintaan 15 klub yang tergabung dalam Forum Komunikasi Klub Sepakbola Profesional Indonesia. Tuntutan itu disampaikan mereka Kafe Blooming, FX Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (4/10).
Direktur Utama Persija, Gede Widiade menjadi salah satu dari lima perwakilan klub yang memberikan keterangan. Selain Gede, hadir Bento Madubun (Persipura Jayapura), Haruna Soemitro (Madura United), Achmad Haris (Sriwijaya FC), Ardasa Syarifuddin (Barito Putera), dan Andi Widya Syadzwina (PSM Makassar).
“Ada beberapa aspek penting, teknis, bisnis, dan legal. Kita sudah bicarakan beberapa kali dengan federasi dan operator. Saat kompetisi jalan, kami menjalankan ketentuan yang ada. Kami percaya dengan PT LIB. Berjalannya waktu, apa-apa yang terjadi dari pertama sampai akhir putaran pertama. Putaran pertama selesai, PT LIB mengundang kami. Kami merasa evaluasi PT LIB kami anggap masih kurang sempurna,” ujar Gede.
Mereka meminta agar PT LIB bisa menyelesaikan masalah ini paling lambat 14 hari dengan harapan PT LIB bisa mengembalikan surat perjanjian yang disepakati sebelum kompetisi dimulai dan memberikan kejelasan tentang segala aspek yang dimaksud kepada klub. Mengingat ke 15 klub itu sempat mengajak PT LIB untuk berdiskusi namun mereka menolak datang lantaran ada kepentingan lain yang tidak bisa diganggu.
“Apabila dalam 14 hari, LIB tidak mengembalikan surat perjanjian yang sudah kami serahkan di awal kompetisi, maka kami bersepakat untuk berhenti berkompetisi sementara waktu,” tukas Bento. (Nil)









