Sesuai jadwal, perhelatan politik nasional melalui penyelenggaraan Pilkada Serentak akan dilaksanakan tanggal 27 Juni 2018. Diperkirakan generasi milenial akan punya andil besar. Tak heran, jika pasangan calon (Gubernur/Walikota/Bupati) membidik komunitas muda atau generasi yang trendy lewat jargon anak jaman now ini. Jika itu benar, mereka akan sangat menentukan perolehan suara masing-masing paslon di Pilkada Serentak 2018.
Kekuatan suara milenia amat bergantung dari karakter yang tengah mereka gandrungi, yakni melek informasi dan selalu mencoba terkoneksi via jejaring media sosial digital. Urusan linimassa, tampaknya kelas milenia mampu menghegemoni ketimbang generasi jaman old (kisaran 35-55 tahun) atau jauh melebihi kelas baby boomers (55 tahun keatas).

Pendek kata, anak-anak jaman now lah pemilik dan penguasa jagad media sosial saat ini. Isu-isu politik tak lagi menjadi virus di kalangan mereka. Karena tak melulu berisi konten yang usang, tapi penuh ruang terbuka untuk berekspresi. Bahkan partai politik sudah -berani- memerankan media sosial sebagai -mesin politik- untuk menyasar generasi milenia, khususnya pemilih pemula.
Bisa dipahami, sebab media sosial amat -ramah- untuk dilakukan penetrasi isu-isu politik dan varian serangan propaganda dengan memahami betul karakter anak muda yang reaktif. Jika kita terus berusaha mengikuti gerak ekpresi anak muda milenia, sesungguhnyapun memiliki kesadaran politik yang tidak melulu berbanding lurus dengan sebuah preferensi politik.
Katakanlah untuk Pilkada Serentak yang akan datang. Sekalipun pilkada adalah sebuah kontestasi politik berbasis partai-partai (dengan asumsi bahwa kehadiran calon-calon independen tak lagi signifikan), anak-anak muda punya kecenderungan umum melihat sosok dan figurnya. Partai dikebelakangkan. Pada fase selanjutnya, partai dapat diterima sepanjang sosok dan figur dapat memberi kenyamanan mereka.
Dengan tipikal sebagai generasi digital native, mereka tak segan-segan melakukan pergerakan masif di jejaring media sosial untuk bertarung antar komunitas. Produk-produk isu dikemas melalui semacam meme dan sebagainya yang menujukkan mereka mulai tergerak dalam keyakinan politik dan saling mempengaruhi. Itu kenapa, mereka bisa menjelma sebagai –agresor politik- yang menguasa jagad maya politik, sungguhpun mereka tak berseragam partai, tak memiliki KTA partai atau hal lain yang mencirikan kader-kader sebuah partai politik.
Lihat bagaimana pertarungan eksposure dan aktivitas digital generasi ini yang sangat berpengaruh pada sirkulasi isu-isu menjelang pilkada atau bahkan Pemilu 2019.
Yang menjadi persoalan adalah (lagi-lagi) soal preferensi pilihan. Pasangan calon yang abai akan pemilih milenia, dapat dipastikan tak akan mampu mendongkrak suara dari pemilih pemula. Apalagi, konten digital sangat berpengaruh pada generasi pemilih matang yang lebih banyak menerima dibandingkan memverifikasi atau memproduksi konten sebagaimana yang dilakukan oleh generasi milenial.
Salah satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang sangat aktif memberi ruang ekspresi adalah Pasangan Nomor Urut 2 di Pemilihan Gubernur Jawa Barat, yaitu TB. Hasanuddin dan Anton Charliyan. Hingga saat ini, paslon yang dikenal dikenal dengan HASANAH ini bisa dikatakan menguasai secara masif isu-isu di media sosial seperi twitter, instagram dan facebook. Mengapa? Karena mampu menangkap posisi strategis pemilih pemula. Meskipun secara konseptual pemilih milenial merujuk pada generasi usia 21 tahun-35 tahun, penggunaan pemilih milenial yang juga mencakup generasi usia 17 tahun-20 tahun akan lebih memudahkan kita dalam pembacaan pemilih muda dan pemilih matang di usia lebih dari 35 tahun.
Untuk menjawab pertanyaan diatas, setidaknya ada 3 poin penting untuk membaca arah dan preferensi politik pemilih milenial;
1. potensi partisipasi politik dan kemantapan pilihan,
2. sensitifitas pada isu sosial/kebijakan,
3. dan tentunya adalah soal preferensi terhadap kandidat dan pilihan politiknya dalam pemilu, baik karakter kandidat yang disukai maupun dukungan personal terhadap kandidat.
HASANAH terdepan penguasaan isu milenia*
Calon Gubernur yang diusung oleh PDI Perjuangan (belakangan juga mendapat dukungan penuh dari Partai HANURA) yaitu TB.Hasanuddin-Anton Charliyan sejauh ini menjadi *-bintangnya medsos-*, semua perjalanan kegiatan, isu-isu populis, kemasan aksi dan beragam kreasi dukungan senantiasa menghiasi linimassa. Hal ini juga membuktikan betapa pasangan ini memberi porsi lebar-lebar keterlibatan anak muda dalam pemenangan kontestasi pilgub Jawa Barat.
Melek sosmed diimbangi dengan kegiatan yang betul-betul menjadi trending dikalangan anak muda semacam konko bareng, ngopi bareng di gelar di beberapa wilayah kota dan kabupaten se Jawa Barat.
Sadar akan pentingnya manajemen isu melalui pengerahan anak muda di ruang sosial media, tak tanggung-tanggung paslon HASANAH ini bahkan memiliki akun-akun sosmed yang terkoneksi dengan seluruh elemen pemenangannya. Keseriusan soal ini justru mampu menjadi -panggilan- anak-anak muda di Jawa Barat untuk memberi pilihan politik di Pilgub Jabar kepada HASANAH ketimbang yang lain.
Anak muda memang tak perlu diajak berlama-lama mendengarkan proposisi konsepsi politik. Ia harus dihadapkan pada tantangan-tantangan kreatifitas, peluang-peluang berekpresi dan perlakuan yang menempatkan mereka sebagai generasi jaman now. Politik edukasi semacam itulah yang mampu menentukan arah pilihan di pasar suara generasi milenia.
Oleh: Henu Sunarko
Wakil Ketua PDI Perjuangan Kota Bekasi Bidang Komunikasi Politik.








