oleh

Buruh Milenial dan Gen Z

Beberapa hari yang lalu, dunia merayakan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh. Tapi di linimasa, Hari Buruh lebih sering terlihat seperti parade ucapan motivasi, diselingi promo e-commerce dan konten “healing dulu ah biar nggak bete atau biar nggak burnout”.

Padahal sejatinya, Hari Buruh bukan sekadar tanggal merah. Ia adalah peringatan, sekaligus pengingat, bahwa di balik setiap layanan, konten, dan produk, ada keringat orang-orang yang jarang dapat spotlight termasuk generasi milenial dan Gen Z yang makin hari makin paham cara kerja, tapi belum tentu dapat kerja yang layak.

Milenial hari ini bukan cuma sibuk cari kerja, tapi juga sibuk cari arti. Arti dari “pengalaman kerja minimal 2 tahun” di lowongan entry-level. Arti dari “jam kerja fleksibel” yang ujungnya kerja Sabtu-Minggu. Arti dari “gaji kompetitif” yang sayangnya, masih kalah kompetitif dibanding harga sewa kosan. Hari Buruh seharusnya jadi cermin: apakah kerja keras kita benar-benar dibayar pantas, atau sekadar dilumuri janji manajemen tentang “kesempatan berkembang”?

Anak muda adalah kekuatan demografi terbesar di dunia kerja saat ini, tapi seringkali berada di lapisan paling rentan. Mereka dituntut multitalenta, multitasking, dan multi apapun, tapi kadang cuma dapat gaji satu digit dan ucapan “terima kasih atas dedikasinya.” Lebih miris lagi, banyak yang terjebak dalam romantisasi hustle culture, bangga kerja 12 jam sehari, tapi lupa bahwa hak cuti itu bukan mitos. Ini sama saja bukan kerja, tapi emang lagi dikerjain.

Namun jangan salah. Milenial dan Gen Z bukan cuma bisa curhat di Twitter atau bikin video lucu tentang capek kerja. Mereka juga punya suara, data, dan kesadaran kolektif.

Ini saatnya peran anak muda naik level: dari sekadar mengeluh jadi mengubah. Ikut membangun ekosistem kerja yang sehat, menolak eksploitasi terselubung, dan menuntut kebijakan ketenagakerjaan yang relevan dengan zaman.

BACA JUGA :  Burhanuddin Muhtadi: Tingkat Pelayanan Mudik Lebaran 2026 Capai Kepuasan

Hari Buruh adalah momentum, bukan nostalgia. Dunia kerja sudah berubah pekerja lepas, remote working, semua menuntut definisi baru tentang keadilan dan kesejahteraan. Hal ini haruslah dikalibrasi ulang, dan anak mudalah yang paling siap mendesain masa depan itu.

Tapi syaratnya satu: jangan cuma sibuk beradaptasi. Saatnya berani bersuara, bersikap, dan bila perlu, berserikat agar kerja bukan sekadar bertahan hidup, tapi juga hidup dengan bermakna.

Oleh: M. Iqbal Perdana

(Pemerhati Buruh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed