oleh

Reposisi Politik : Sebuah Catatan untuk Memenangi Pileg dan Pilpres 2019

Pilkada Serentak 2018 sudah usai, akan segera dilantik para gubernur/wakil gubernur dan bupati/wakil bupati atau walikota/wakil walikota yang memenangi kontestasi pilkada serentak 2018.

Memotret dinamika politik selama pilkada, tentu ada banyak hal yang bisa menjadi pelajaran untuk agenda-agenda politik selanjutnya. Konfigurasi politik hasil pilkada serentak 2018 mencerminkan tidak ada hegemoni partai-partai yang berhasil memenangkan pertarungan untuk menjadikan kader partai-partai sebagai gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati atau walikota/wakil walikota. Sekalipun begitu, semua partai akan menjadikannya sebagai alat ukur yang memadai dalam menyusun proyeksi politik di hajat Pileg dan Pilpres 2019.

PDI Perjuangan Kota Bekasi Untuk lingkup Kota Bekasi, PDI Perjuangan akan melihat dengan cermat, penuh kalkulasi dan perhitungan dalam menghadapi Pileg dan Pilpres 2019, selain tentu saja menyesuaikan dan mentaati garis kebijakan partai yang diamanatkan oleh DPP PDI Perjuangan.

Pentingnya melakukan reposisi politik bagi PDI Perjuagan di Kota Bekasi adalah untuk kembali membangun kepercayaan diri, membangkitkan elan perjuangan semua kader dan menggelorakan semangat perjuangan menghadapi agenda politik selanjutnya, yaitu Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2019.

Reposisi politik ini juga menjadi ruang untuk membuang semua residu politik yang menggumpal pasca Pilkada Kota Bekasi dan Pilgub Jabar. Isu-isu yang dapat membuka perdebatan panjang bisa ditepis melalui semangat yang menjujung marwah kepartaian. Karena isu yang menguat hari ini, dan terus bergerak adalah menyoal pilpres.

Lepas dari bangunan koalisi partai-partai pendukung Jokowi untuk Pilpres 2019 (PDI Perjuangan, Partai Nasdem, Partai Hanura, PKB, PPP, Partai Golkar dan ditambah dukungan partai-partai baru seperti PSI dan Perindo), sejatinya dalam konteks Pileg mereka adalah kompetitor. Oleh karena itu, memenangkan pemilu legislatif adalah penguatan akan bangunan koalisi diatas. Jika spirit ini juga didengungkan oleh partai-partai pendukung Jokowi, dan ditambah dengan perlawanan dari koalisi opisisi (Partai Gerindra, PKS, PAN, Partai Demokrat) ditambah Partai Beringin Karya dan Partai Garuda, bisa dipastikan partai yang benar-benar mapan, tidak membuang energi karena adanya konflik internal yang akan maraup suara dari rakyat sekaligus memenangi pileg yang akan datang

BACA JUGA :  Tabahlah Pak Enggar: Sawah Masih Menghijau Rakyat Butuh Makan

Pertarungan di Kota Bekasi akan sangat dipengaruhi oleh wajah koalisi, oleh karena itu harus mampu menterjemahkan koalisi presiden disatu sisi, dan memenangi pileg disisi yang lain. Dititik inilah seluruh potensi partai harus bergerak dalam kesamaan langkah, kesamaan pandang dan tujuan.

Tugas seluruh komponen kepartaian; pengurus disemua tingkatan (DPC, PAC, Ranting dan Anak Ranting), kader-kader di komunitas juang atau sayap-sayap partai (Banteng Muda Indonesia, Taruna Merah Putih, Relawan Perjuangan untuk Demokrasi, Baitul Muslimin Indonesia), seluruh simpatisan partai adalah menggelorakan api perjuangan untuk memenangi pemilu legislatif.

Jika reposisi politik ini berjalan dengan baik, maka optimisme wajib didengungkan oleh semua komponen kepartaian. Kerja-kerja politik akan terasa sebagai panggilan partai, panggilan ideologis yang penuh sukacita dan kegembiraan.

Dus, muara dari semua ini adalah memenangi pileg seraya mengantarkan kembali Ir.Joko Widodo merampungkan tugas dan tanggungjawabnya sebagai Presiden untuk periode keduanya; 2019-2025.

Oleh : Henu Sunarko, (Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Bekasi, Bidang Komunikasi Politik)

News Feed