Inilah Tradisi Ngarak Nganten Khas Betawi Bekasi

Inilah Tradisi Ngarak Nganten Khas Betawi Bekasi
Foto Bersama saat Lebaran Betawi Yang Ke 3 di YASFI Kelurahan Jatimurni Kecamatan Pondok Melati Bekasi

KOTA BEKASI – Ngebesan, Ngarak Nganten merupakan tradisi masyarakat Betawi yang sudah lahir seumur dengan peradaban Betawi itu sendiri.

“Namun diera tahun 60 hingga 80 an begitu popular tradisi Ngebesan atau Ngarak Penganten yang diiringi dengan lantunan solawat Dustur, Solawat Yalil serta tetabuhan Rebana Biang atau Hadroh,” ujar Cerator Acara, Aki Maja saat ditemui di Yayasan Pendidikan Fisabilillah (YASFI) Jl.Kp Sawah Kelurahan Jatimurni Pondok Melati, Sabtu (4/8).

Aki menjelaskan, ini yang namanya Lebaran Betawi, nah kali ini di Lebaran Betawi yang ke 3 kita angkat tema Ngarak Nganten.

“Dimana sebelum prosesi ngebesan (rombongan calon pengantin) terlebih dahulu dilakukan beberapa tahapan bagi penganten lelaki maupun penganten perempuan,” kata Aki

Aki juga mengungkapkan berbagai proses tahapan yang dilalui seperti penganten perempuan sebelum duduk dipelaminan dan menyatakan ikrar akad nikah terlebih dahulu “disekep” dalam sebuah ruang yang dibuat sedemikian rupa dengan “dikurub” selimut tebal, tikar, bahkan hingga tabunan/bakaran dengan tujuan memacu keringat keluar dengan deras, sehingga saat duduk dipelaminan sang penganten tidak lagi kegerahan dan mengeluarkan banyak keringat.

“Ritual selanjutnya yaitu “Asah Gigi” supaya penganten wanita berpenampilan cantik gigi geriginya diasah hingga rata dan indah. Memasuki fase menjelang akad nikah ada ritual “Tamatan” yaitu kegiatan penganten wanita membaca ayat suci Al’Quran sebagai sebuah perwujudan bahwa Orang Betawi Asli Kudu pinter mengaji. Hal itupun berlaku untuk penganten lelaki,” terangnya.

Setelah itu lanjutnya, Iring-iringan rombongan besan dengan komposisi penganten lelaki berada dipaling depan, didampingi kedua orangtua, dipayungin.

“Dibagian belakang terdiri dari para pengiring sanak saudara, tetangga, kerabat sambil membawa kue-kue dalam nampan, sepikulan tenong berisi wajik dan dodol, sepikulan sayur sayuran dan lauk pauk mentah, sepikulan kayu bakar dengan hiasan ornament cabe merah dan hijau dibuat dari sabut kelapa dilapisi kertas wajik,” ulas Aki

Sesampai didepan rumah calon pengantin laki – laki sambung Aki, sebelum masuk dan diterima diadakan ritual “Berebut Dandang”.

“sebagai simbol bahwa harkat martabat dan kesucian seorang perempuan harus dihargai setingi-tingginya. Sepasang jawara melakukan adu tanding ketangkasan sebagai perwakilan dari pihak penganten perempuan dan penganten laki-laki yang didahului dengan berbalas pantun Khas Bekasi/Betawi. Ketika jawara dari pihak laki-laki berhasii merebut dandang dan kembali menyerahkan kepada pihak perempuan artinya rombongan besan boleh masuk rumah besan perempuan,”

“Sepasang mempelai masuk ruang pelaminan untuk melangsungkan akad nikah secara Islam. Rombongan besan yang lain bisa duduk-duduk pada tempat yang sudah disiapkan,” sambungnya.

Selesai akad nikah dan dinyatakan syah yang dilanjutkan dengan pembacaan doa dan taklik penganten, barulah rombongan pengantin dan hadirin dapat menikmati santapan yang sudah disiapkan seperti nasi putih, sayur bekasem, ikan japuh berjaket, kancing levis-semur jengkol, gabus pucung, serta kue-kue lapis, pepe, kue cincin, rengginang dan berbagai pisang seperti pisang ambon, pisang nangka, pisang anggleng, pisang pulo dll.

“Pada malam harinya biasanya dimeriahkan dengan hiburan seperti Topeng, Tanjidor, Wayang Kulit, Pikep sekoder, kliningan, atau layar tancep,” ungkapnya. (Ben)

Tags: , ,

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.