oleh

Sebuah Refleksi Nalar di Tahun Baru 2018

Pergantian tahun menjadi semakin penting untuk dimaknai melalui refleksi, mengingat kemasyarakatan dan kebangsaan. Persinggungan dengan dunia luar telah menjadikan Indonesia sebagai bagian dari pusaran arus deras masyarakat global hingga terus bergerak dengan cepat dalam dunia yang terus berubah dengan tidak kalah cepatnya, telah menuntut kita bersama untuk terus merefleksikan diri dalam situasi tindakan dan keputusan yang kita ambil dan laksanakan.

Itulah konsekwensi hidup diera perubahan. Realitas yang menuntut akan perubah agar dinamika keindonesiaan kita tidak usang. Agar rekayasa pembangunan manusia Indonesia berlangsung dalam konteks yang sejalan dengan tuntutan etik dan pragmatik yang terdapat dalam dinamika itu.

Refleksi Menjadi Sebuah Kebutuhan

Manusia yang bernalar ibarat kompas di tengah hutan belantara atau di tengah lautan yang seolah tidak bertepi, yang dapat memberi arah dan menuntun manusia ke arah jalan kebenaran.

Refleksi juga menjadi aktifitas mental dalam merenungkan situasi yang dihadapinya. Mentalitas yang mewujud dalam penciptaan manusia sebagai mahluk Tuhan.

Refleksi juga menjadi cermin bagi kita untuk berkaca tentang hidup kita dalam periode yang telah terlewati. Apakah periode berjalan itu kelam gulita atau periode itu terang bercahya. Semua memiliki dasar nalar untuk dijadikan pelajaran dan ajaran bagi anak manusia. Apa dan bagaimana serta mengapa segala sesuatunya terjadi pada hidup kita. Inilah bagian yang menegaskan bahwa masa lalu dan sejarah merupakan alat yang baik untuk melihat diri dan masyarakat kita. Ia menjadi cermin yang jika digunakan dapat menunjukkan siapa bagaimana dan mengapa kita dan masyarakat kita. Sebuah kemewahan dari sejarah, dengan dimensi masa lalu yang dapat menjelaskan konteks kekinian kita, serta memberikan optimisme bagi pandangan masa depan kehidupan.

BACA JUGA :  Lunturnya Identitas Bangsa

Ruang Nalar

Nalar yang merefleksi berbagai pengalaman hidup, perlu didorong difasilitasi dan diberikan ruang serta waktu untuk terus berpikir dan mencapai tingkat kedewasaannya. Itu yang menjadikan manusia memiliki derajat kesempurnaan dalam kehidupan dan di sisi Sang Pencipta.

Bahwa pengalaman mendorong manusia untuk mengambil hikmah dari pengalaman itu. Maka hikmah hanya berjumpa dan ditemui serta di kenali oleh mereka yang dengan intens mencubuinya dengan akalnya (Al Baqarah, 261).

Seorang filsuf hermeneutika utama, Hans George Gadamer mengungkapkan, sesungguhnya tidak jarang kebenaran yang menemukan manusia ketimbang manusia yang menemukan kebenaran. Itu berarti Tuhan bermurah hati memberikan kebaikan dalam hidup kita dengan mempertemukan dan menuntun kita kepada kebenaran. Point ini bisa dipahami keliru, seolah-olah bahwa mereka yang menemukan kebenaran tidak mendapatkan petunjukkan dari Tuhan. Hanya cara mendapatkan petunjuknya yang jauh berbeda. Mereka yang menemukan kebenaran dalam konteks ini, akan memiliki kedalaman untuk memaknai dirinya dan kehidupannya serta segala realitas yang mengitarinya. Mereka yang ingin menjumpai kebenaran dengan sunguh sungguh, akan terbuka peluang untuk menemukannya.

Sebuah Ruang Berfikir

Begitulah kehidupan, diantara pergantian waktu selalu ada ruang bagi manusia untuk berpikir. Allah menciptakan akal sebagai alat bernalar dengan mewahnya. Namun kebanyakan manusia malas berpikir dan cenderung menerima kenyataan sebagaimana adanya. Tanpa berkehendak untuk menerima kenyataan sebagaimana mestinya. Dimensi ini sesungguhnya yang menuntut manusia dan menjadikan manusia berbeda dengan mahluk Tuhan Allah lainnya.

Yang pertama menempatkan manusia pada sikap pasrah dan fatalistik serta cenderung menjadikan kehidupan sempit dalam ruang nasib dan takdir semata. Sedangkan yang kedua, menjadikan manusia bekerja keras dalam ikhtiar tiada henti yang menjadikan kehidupan luas dalam ruang nasib dan takdir yang menerobos dimensi ruang dan waktu. Yang pertama cenderung menempatkan manusia pada kebodohan dan kehinaan. Sedangkan yang kedua cederung menempatkan manusia pada kecerdasan dan kemuliaan. Begitulah Tuhan Allah menempatkan manusia dalam dua kategori yang timbangannya telah sama diketahui dan bukti empirisnya telah sama dirasakan dan dinikmati oleh manusia yang hidup silih berganti di muka bumi.

BACA JUGA :  Dilema Kartu Sehat

Maka refleksi merupakan cara untuk memanifestasikan ide ide ketuhanan tentang sifat manusia sebagai mahluk berpikir. Merefleksi juga menandai aktifitas mental yang bergulir dalam dimensi rasional dan bahkan spiritual. Ia mengasah kesadaran kita di tengah hiruk pikuk kehidupan yang cenderung mempropokasi manusia untuk menjadi serakah dan buas seperti binatang, bahkan melebihi binatang.

Segenap anak bangsa ini perlu mendorong manusia Indonesia bergerak untuk berpikir. Berpikir dengan mengajukan jenis pertanyaan mendasar yang reflektif. Mengapa dan bagaimana sesuatu berlangsung. Serta bagaimana berlangsungnya dan mengapa demikian berlangsungnya, merupakan dasar untuk memahami dan mendapati substansi makna dari realitas yang dihadapinya.

Dengan demikian kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai berita dan info terlebih lagi hoax yang setiap detik silih berganti menghantam kita. Dengan demikian kita akan memiliki ketenangan dalam melihat dan menilai berbagai berita dan info yang silih berganti itu.

Itulah cermin masyarakat yang sehat. Ketika akal sehat dan nuraninya berfungsi dan difungsikan. Segala keputusan dan tindakan diambil secara otonom dengan melibatkan mentalitas dasar yang dimilikinya, berpikir. Itu juga akan mengurangi dengan signifikan keriuhan dan kerendahan dinamika sosial disekitar kita. Keriuhan dan kerendahan yang menjadikan kita dan masyarakat kita tidak produktif, semakin jauh tertinggal dari yang lain, serta tenggelam dalam realitas dan euforia semu. Merasa hebat padahal tidak hebat. Merasa kuat padahal rapuh. Bagaimana mungkin hebat dan kuat, jika dasar untuk itu tidak dimiliki, nalar yang difungsikan. Nalar tempat ilmu bercengkrama dan ilmu hanya bercengkarana dengan para pecintanya. Para pecinta ilmu selalu memfungsikan akalnya.

Wacana bangsa ini terlalu banyak dan luas. Tetapi menjadi pincang karena ruang merenungkannya terlalu sempit. Dialog rasional yang berdimensi sosial dan spiritual menjadi mahal dan lebih sering menyulut emosi serta membakar masyarakatnya. Padahal itu menjadikan kita tidak mengenali dan cederung gagal memahami persoalan dengan sesungguhnya.

BACA JUGA :  New Normal yang Mengkhawatirkan

Maka refleksi memberi ruang bagi masyarakat kita untuk mengambil hikmah dari realitas yang dihadapinya. Refleksi memberikan optimisme kepada kita untuk menghadapi berbagai tantangan di muka. Refleksi juga memberikan petunjuk kepada orang orang yang berpikir di antara pergantian sianh dan malamnya.

Itulah langgam yang menciptakan peradaban utama dalam lintasan panjang sejarah perkembangan jaman. Sebuah era yang patut diperjuangkan dengan cara utama agar menghasilkan peraban utama, peradaban yang telah lama diimpikan oleh kehidupan bersama para penghuninya.

Selamat mengikuti sunatullah jaman, pergantian tahun yang di dalamnya banyak hal untuk direnungkan, berkah melimpah bagi mereka yang dengan sungguh sungguh mengasah nalar nalarnya. Nalar intelektual dan nalar kemanusiaannya melalui ruang ruang reflektif yang kita miliki bersama.

Oleh : Desvian Bandarsyah
Penggiat Rumah inspirasi Bambu Apus

News Feed