KOTA BEKASI – PT. Nusa Wijaya Abadi (NWA) mendorong Pemkot Bekasi segera mengajukan surat permohonan kerjasama ke Kementerian ESDM dalam pemanfaatan listrik dari sampah TPA Sumur Batu.
Pasalnya, saat ini dipastikan sudah lolos uji emisi ramah lingkungan dan dinilai mampu menyelesaikan persoalan sampah menumpuk di wilayah Kota Patriot ini.
Hal ini menyusul terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) nomor 35 Tahun 2018 tentang percepatan pembangunan instalasi pengolahan sampah menjadi energi listrik berbasis tekhnologi ramah lingkungan. Terlebih, perusahaan tersebut telah melakukan uji coba 1×24 jam dan dinyatakan layak dan menghasilkan energi listrik yang memadai.
Presiden Direktur PT. NWA Tenno Sujarwanto menegaskan, perusahaannya telah melakukan upaya pemanfaatan sampah di TPA Sumur Batu sejak tahun 2016 silam. Saat ini, pekerjaan tersebut telah usai dan mampu menghasilkan listrik yang bisa di konsumsi masyarakat.
“Selain dari Pemkot yang melakukan uji coba, dari Kementerian ESDM juga sudah melihat kondisi kita di lapangan dan kita dinyatakan siap memproduksi listrik. Maka, kami mendorong Walikota segera membuat surat ke Kementerian ESDM supaya kita bisa melakukan MoU dengan PLN terkait PLTSa di Sumur Batu ini,” tegas Tenno kepada wartawan saat Konferensi Pers di Rumah Makan Bakso Lapangan Tembak, Kota Bekasi, Selasa, (6/2).
Dia menjelaskan, apabila produksi listrik dari bahan bakar sampah ini bisa segera berjalan bakal menjawab persoalan sampah yang selama ini menjadi permasalahan. Karena, dalam satu hari nya bisa memusnahkan sampah sampai 1.050 ton.
“Dari target yang semula hanya 2,3 ton per jam, ternyata kita mampu menghabiskan sampai 3,3 ton per jam. Jadi, kita target 20 tahun sampah di TPA Sumur Batu bisa habis. Bahkan, target kita kedepan bisa beroperasi di TPA lain yang ada di Kota Bekasi supaya persoalan sampah bisa selesai,” bebernya.
Lebih lanjut dia mengatakan, tekhnologi yang digunakan PT. NWA sangat ramah lingkungan. Bahkan, dari hasil uji lab emisi gas buang yang dihasilkan tidak berbahaya terhadap lingkungan.
“Yang kita gunakan untuk memproduksi listrik ini adalah dari gunungan sampah lama. Karena Indonesia ada pemulung, sisanya baru kita screening. Tanah jadi pupuk, sampah kita bakar untuk diproses dengan suhu 1.200 derajat. Dioksin sudah aman secara lingkungan karena suhu tinggi. Dari uap itu menggerakan turbin generator jadi tenaga listrik,” lanjutnya.
Pihaknya, berharap proses penjualan produksi listrik dari sampah ke PLN ini bisa berjalan pada Bulan Maret mendatang.
“Akan kita alirkan ke PLN setelah PPA. Karena, semua perusahaan pembangkit listrik wajib menjual nya ke PLN sesuai dengan Perpres Nomor 35 2018. Kita ajukan PPA 9 Megawatt,” pungkasnya. (Msi)









