JAKARTA, Beritapublik.co.id – Masih menjadi pendapat banyak pihak bahwa oposisi itu erat kaitannya dengan peran kekuatan politik atau partai politik yang berada diluar pemerintah yang lahir akibat dari kekalahannya dalam pemilihan umum.
Sehinga seperti menjadi keharusan partai yang kalah pemilu hendaknya menjadi partai oposisi yang diharapkan menjadi kekuatan penyeimbang atau chek and balance terhadap pemerintah.
Bahkan akan lebih lagi tuntutannya pada peran
oposisi ini, terhadap proses pengambilan keputusan berdasar suara terbanyak seperti di DPR misalnya. Namun begitu kita jangan lupa bahwa peran oposisi itu juga dapat tumbuh subur pada jagat pemikiran, yang dari dasar pemikiran ini dapat menjadi rujukan kebijakan publik.
Peran cendekiawan atau kaum terpelajar misalnya, dapat berperan menumbuhkan tradisi chek and balance, tentu dengan sumbangan pemikiran-pemikiran cerdasnya, sehingga atmosfir kebangsaan kita diwarnai pula oleh kekayaan pemikiran-pemikiran alternatif yang solutif yang berbeda dengan pemikiran yang berkembang dikalangan pemerintahan misalnya. Apa lagi jika kemudian hadirnya pemikiran solutif tersebut merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai kebangsaan kita.
Sebab telah menjadi pendirian kita bahwa bila terjadi suatu kemunduran pada suatu bangsa maka kaum terpelajarlah yang sesungguhnya harus bertanggung jawab dan mencari jalan keluar penyelesaiannya.
Kaum terpelajar tidak boleh diam membiarkan ada kebijakan nasionalnya yang tunggang langgang bertentangan dengan cita-cita bangsa. Maka kritik membangun menjadi keniscayaan bagi bangsa yang ingin maju.
Disinilah kiranya kaum terpelajar sebagai lapisan elit memiliki peran guru bangsa yang bersikap negarawan.
Penulis : Ahmad Zacky Siradj
Ketua Ikatan Alumni Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (IKALUIN) Jakarta.







![_DSC1032[1]](https://beritapublik.co.id/wp-content/uploads/2017/08/DSC10321-300x199.jpg)
