oleh

Kemenkes RI Dorong Literasi Kesehatan Lawan Hoaks di Era AI

JAKARTA, Beritapublik.co.idPeringati World Cervical Cancer Elimination Day, MSD Indonesia (nama dagang Merck & Co., Inc., Rahway, N.J., USA) bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dengan mengangkat tema  Lawan Misinformasi Kanker Leher Rahim di Era AI’.

Saat ini, Mis informasi seputar kesehatan masih menjadi tantangan. Data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat sepanjang 2024 ditemukan lebih dari 1.900 konten hoaks, dengan 163 di antaranya terkait isu kesehatan utamanya mengenai vaksinasi dan obat herbal.

Kondisi ini semakin menekankan pentingnya pemahaman masyarakat yang kuat dalam mencari informasi yang tepat, akurat, dan berbasis bukti ilmiah terkait kesehatan, di era kecerdasan buatan (AI), utamanya terkait kanker leher rahim serta langkah pencegahannya, salah satunya melalui imunisasi HPV.

Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan, dr. Prima Yosephine, MKM, mengatakan, dalam upaya menurunkan angka kejadian kanker leher rahim di Indonesia, persebaran informasi yang tepat dan akurat memiliki peran yang sangat krusial.

“Edukasi yang tepat akan membantu masyarakat memahami bahwa kanker leher rahim adalah penyakit yang dapat dicegah, salah satunya melalui imunisasi HPV,” jelasnya, melalui siaran persnya ke Beritapublik.co.id, Selasa (18/11).

Menanggapi hal tersebut, Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang Anak, Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si, menegaskan bahwa pemahaman yang benar tentang risiko infeksi HPV merupakan fondasi penting dalam upaya pencegahan.

“Infeksi HPV itu sering tidak terlihat. Hari ini kita merasa sehat, tetapi 15–20 tahun kemudian, virus yang sama bisa berkembang menjadi berbagai kanker, seperti vagina, vulva, penis, orofaring, hingga kutil kelamin yang 90% dipicu oleh virus ini,” ujarnya.

Kabar baiknya, lanjutnya, semua risiko tersebut bisa dicegah, salah satunya melalui Imunisasi HPV.

BACA JUGA :  Lintas Sektor Bidang Kesehatan Bekasi Adakan Pertemuan

“Vaksin HPV sudah terbukti aman dan bermanfaat sejak pertama kali digunakan pada 2006, dan kini dipakai di lebih dari 130 negara. Jadi ini bukan hal baru, bukan percobaan. Ini langkah nyata untuk melindungi diri dan keluarga,” ungkapnya. (Ndi/Rs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed