oleh

Sekata Institut Desak Evaluasi Diseminasi KSTI 2026

JAKARTA, Beritapublik.co.id – Konvensi Sains, Teknologi dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 adalah forum strategis nasional yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi bersama Majlis Rektor Perguruan Tinggi Negeri menuai kritik tajam dan meminta adanya evaluasi mendalam.

Hal tersebut disampaikan, Direktur Eksekutif Sentra Ketahanan dan Keadilan (Sekata Institut), Andri Frediansyah.

“Yang perlu dievaluasi bukan siapa yang hadir dalam KSTI, melainkan apa yang dilakukan setelah forum itu selesai. Jika berbagai informasi strategis yang diperoleh langsung dari pemerintah hanya berhenti sebagai pengetahuan pribadi dan tidak pernah dibawa ke ruang-ruang akademik, maka kepemimpinan akademik kehilangan maknanya,” kata Andri dalam keterangannya, Sabtu (04/07).

Ia menilai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab konstitusional untuk menjadi pusat produksi sekaligus distribusi pengetahuan.

“Seorang rektor tidak cukup hanya menjadi peserta forum nasional, tetapi juga harus memastikan materi yang diperoleh menjadi bahan diskusi ilmiah, kuliah umum, seminar, maupun forum akademik yang dapat memperkaya wawasan sivitas akademika”, jelasnya.

Menurut Andri, minimnya diseminasi hasil KSTI justru memperlihatkan adanya persoalan dalam kepemimpinan akademik di sejumlah perguruan tinggi. Padahal, di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi opini di ruang digital, kampus seharusnya menjadi institusi yang paling aktif menghadirkan penjelasan yang objektif, berbasis data, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Andri menegaskan bahwa evaluasi terhadap para rektor tidak dimaksudkan untuk mengurangi kebebasan akademik.

“Justru sebaliknya, evaluasi diperlukan untuk memastikan bahwa kebebasan akademik berjalan seiring dengan tanggung jawab moral dan konstitusional perguruan tinggi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa para pendiri bangsa menempatkan perguruan tinggi sebagai benteng pemikiran dan penjaga kesadaran kebangsaan. Karena itu, menurutnya, akan menjadi ironi apabila kampus justru kehilangan perannya sebagai ruang yang menjelaskan arah pembangunan nasional kepada generasi muda. (Ndi/Rs)

BACA JUGA :  PLN UP3 Bekasi Catat 137.456 Pelanggan Sudah Menginstal PLN Mobile

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed