Sampai dengan saat ini pemerintah belum bisa memberikan sebuah kepastian kesejahteraan anak-anak di bawah garis kemiskinan untuk bisa menyelesaikan pendidikan mereka sampai ke jenjang yang lebih tinggi, belajar di bawah jembatan layang sangat menyenangkan bagi mereka yang hari ini berprofesi sebagai pengamen jalanan, di tempat itulah mereka berkumpul dan berbagi ilmu, yang menurut kami tidak mungkin terlaksana sebuah kegiatan belajar dan mengajar.
Ironisnya Secara hukum, fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara, sebagaimana diatur dalam Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (“UUD 1945”) yang berbunyi: Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.
Haryanto berkisah memulai gerakan itu sendiri berkeliling menyiapkan keranjang sedekah sampah dari rumah warga satu kerumah warga yang lainnya di komplek Pondok pesantren Al-fatah Cileungsi Bogor, sedang kan pemilahan sampah plastik juga dilakukannya bersama dengan beberapa rekan relawan sebut saja, Nahrowi,Ari,Irsyad, za’im,Ahmad, firman AH,Andi.R, dan yang lainnya, dua tahun pertama mereka hanya memiliki lima relawan.
Kini sudah ada sekitar 12 relawan yang mayoritas adalah remaja masjid, yang terdiri dari mahasiswa dan bapak -bapak paruh baya.
“Mereka berharap dengan tenaga yang bisa mereka lakukan, bisa membantu teman-teman lain yang putus sekolah, yang terdiri dari anak yatim-piatu, dan dhuafa yang tidak bisa bayar SPP sehingga mereka bergerak,” katanya.
Gerakan itu juga bertujuan untuk mengubah perspektif sampah dari yang harus dibuang menjadi yang bisa dikelola, dan menjadi Inspirasi kebangkitan ekonomi,.
Akhirul Soleh menegaskan masyarakat disekitar menjadi motor penggerak dalam upaya penanganan sampah yang masih bisa didaur ulang.
Akhirul Saleh sebagai salah satu motivator dalam kegiatan tersebut mengatakan bahwa gerakan sedekah sampah itu adalah salah satu langkah yang dilakukan untuk mendukung gerakan kebangkitan ekonomi.
Hasil penjualan sampah dapat menjadi sumber dana untuk membantu biaya pendidikan, serta disalurkan untuk membantu fakir miskin, anak yatim piatu dan janda sekitar lingkungan.
Bila memungkinkan kedepannya membuat jangkauan layanan yang lebih luas, yakni menyediakan layanan jemput bagi masyarakat yang ingin menyedekahkan sampah yang ada nilai ekonomisnya.
Layanan ini sifatnya bagi masyarakat yang ingin mensedekahkan sampahnya, seperti rongsokan elektronik, bangku atau meja dan lain sebagainya karena tidak bisa mendaur ulang atau berbagai kesibukan nya sehingga tidak bisa mengantarkannya.
Daripada dimusnahkan dengan cara dibakar, lebih baik di sedekah kan kepada tim sedekah sampah, ini terobosan yang baik, tentunya membantu kebangkitan ekonomi ,” ujarnya.
Data yang diperoleh dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, dalam sehari, produksi sampah mencapai 2.900 ton atau setengah kilogram sampah per hari dengan asumsi jumlah penduduk sebanyak 5,9 juta jiwa.
Namun, sampah yang diangkut oleh 230 armada truk sampah dengan kemampuan satu rit sekali jalan itu hanya mampu terangkut 538,22 ton per hari atau setara 13.455 ton sampah per bulan.
Alhasil, sampah yang tidak terangkut tadi harus dibakar setiap harinya di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga, Kecamatan Cibungbulang.
Hal tersebut bertentangan dengan himbauan pemerintah Masyarakat dihimbau agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar. Pasalnya, hal itu dapat menyebabkan terjadinya kebakaran.
Adapun data penerima manfaat program sedekah sampah sejak berdirinya kegiatan tersebut hingga saat ini. 21 anak tingkat madrasah ibtidaiyah/SD, 9 anak tingkat madrasah Tsanawiyah/SMP, 7 anak tingkat madrasah Aliyah/SMA dan 10 anak tahfidzul Quran.
Berdirinya program sedekah sampah merupakan sebuah gagasan yang sangat luar biasa yang dapat menginspirasi kebangkitan ekonomi, berangkat dari moto yang mereka miliki “Tiada hari tanpa sedekah biar hidup semakin berkah” Haryanto dan relawannya terus bergerak.
Oleh : Akhirul Soleh (Penggiat/Motivator)










Komentar