oleh

Jatim Institute Kutuk Aksi Terorisme di Selandia Baru

JAWA TIMUR – Duka mendalam datang dari negara selandia baru. Pasca ibadah sholat jumat, terjadi penembakan membabi buta terhadap para jamaah Masjid Al Noor Kota Christchurch, Selandia Baru. Ironisnya, sebanyak 49 orang tewas akibat aksi terorisme penembakan ini.

Pelaku saat ini, tengah dalam penangkapan kepolisian setempat. Penembakan brutal tersebut sudah banyak meneror warga sekitar dan dunia internasional.

Departemen Hukum dan HAM Jatim Institute, Willy Innocenti, mengatakan bahwa, kejadia tersebut sudah banyak meneror ketentraman warga kota dan dunia. Sehingga, jika diklasifikasikan hal ini merupakan bentuk kejahatan terorisme.

 

“Kejahatan keji ini, memberikan rasa ketakutan yang mendalam sehingga masuk dalam definisi terorisme,” terang pria yang akrab disapa Willy ini.

 

Aksi terorisme tersebut, membuat banyak pihak mengecam keras tragedi ini, salah satunya Jatim Institue. Sekretaris jendral jatim institute, Yudo Adianto Salim, S.H., M.H, menegaskan,“ Jatim institute, mengutuk keras adanya peristiwa penembakan terhadap para umat muslim yang sedang menjalankan ibadah di Masji Al Noor, Christchurch, Selandia Baru.

Pemuda yang akrab disapa Adi ini menambahkan, teroris merupakan permasalahan yang global, tidak hanya ada di beberapa negara saja.

“Apa yang terjadi di Selandia Baru merupakan PR bersama dunia dalam pemberantasan teroris,” kata Adi, saat ditemui di sela-sela kesibukannya di Kantor Jatim Institute.

“Saya berharap, korban dan warga sekitar bisa segera mendapatkan perlindungan dari aksi terorisme ini.

Hingga berita ini diturunkan, berdasarkan jnformasi yang didapat, sang pelaku bernama Brenton Tarrant teroris penembakan di Masjid An Noor, New Zealand sudah ditangkap polisi sejak Jumat, (15/3).

Pelaku merupakan pria berusia 28 tahun asal New South Wales, Australia ini adalah teroris ekstrim sayap kanan penganut ideologi supremasi kulit putih.

BACA JUGA :  RED Planet Hotel Gencarkan Program Pemeliharaan Lingkungan dan Alam

Sebelumnya, pihaknya telah menerbitkan manifesto “anti migran” sebanyak 70 halaman yang berisi kata-kata kasar soal melawan muslim dan genosida terhadap non kulit putih.

Bahkan, saat diadili di Pengadilan Negeri Christchurch hari ini, saat penangkapan pelaku menunjukan gestur yang “white power” di depan kamera para wartawan. (Red Wil/ Len)