oleh

Penyakit Jantung Koroner Peringkat Satu, Penyebab Kematian di Dunia

KOTA BEKASI – Penyakit jantung koroner merupakan sebutan bagi jenis penyakit kardiovaskuler yang setiap tahunnya diperkirakan Badan Kesehatan Dunia (WHO) memakan korban 17,9 juta jiwa atau setara dengan 31 persen kematian di dunia. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) kebanyakan kasus penyakit jantung koroner sebetulnya bisa dicegah karena berhubungan erat dengan gaya hidup.

“Saat ini penyakit jantung koroner masih peringkat nomor satu, penyebab kematian di dunia, beda tipis dengan stroke. Di Indonesia persentasenya di atas 70%,” ujar dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RS OMNI Bekasi, dr. Novita Sitorus, Sabtu (16/3).

Dijelaskan Novita, kebanyakan masyarakat Indonesia ditimpa penyakit ini lantaran masih mengabaikan gaya hidup sehat.

Menurut Novita, masyarakat terlalu disibukkan dengan kerja, sementara kewajiban menjaga tubuh sehat tidak dilakukan misalnya berolahraga. Selain itu, asupan makanan juga tidak dijaga. Masyarakat yang sibuk cenderung memakan makanan siap saji seperti junkfood.

“Penyebab jantung koroner dominan dengan gaya hidup, masyarakat kita jarang bergerak, karena makanan junkfood, kemudian beban kerja, semuanya membuat stres tubuh kita,” kata dr Novita.

Penyakit jantung koroner terjadi ketika pembuluh darah di jantung mengalami penyempitan akibat penumpukan lemak dan plak yang lama-lama mengeras. Seiring berjalannya waktu pembuluh darah yang semakin sempit akan membuat aliran darah terganggu dan otot jantung tidak bisa mendapatkan oksigen yang dibutuhkannya.

Penyempitan pembuluh darah ini bisa terjadi karena faktor seperti, kolesterol tinggi, hipertensi, merokok, obesitas (kegemukan), hingga diabetes, kurang olahraga, riwayat keluarga, serta faktor umur bertambah. Sementara, gejala yang dirasakan pada penyakit ini, antara lain nyeri dada, sesak nafas, gangguan irama jantung, serangan jantung, kendati 30% mampu didapatkan tanpa gejala-gejala tersebut.

BACA JUGA :  DPMPTSP Raih Peringkat Terbaik Pertama Tingkat Prov Jawa Barat

Gejala paling banyak dirasakan saat tingkat saluran pembuluh darah pada jantung dominan sudah tertutupi kotoran.

“Sumbatan (pembuluh darah) sudah 70% lebih atau sudah tersumbat total akan merasakan gejala. Tempatnya di dada, menjalar ke leher, bahu lengan, rahang, ulu hati, atau punggung,” tuturnya.

Guna mengurangi resiko, masyarakat bisa melakukan olahraga ringan secara rutin, misal 40-60 menit per hari selama lima hari dalam seminggu. Kemudian, menghindari makanan-makanan tidak sehat dan memperbanyak asupan buah dan sayuran, serta tidak merokok.

Gejala penyakit jantung koroner bisa dilihat saat darah semakin sedikit mengalir ke otot jantung maka seseorang bisa mengalami gejala nyeri di dada (angina). Biasanya gejala nyeri akan semakin sering muncul saat seseorang sedang berusaha melakukan aktivitas fisik, makan, kedinginan, atau stres.

Seseorang dengan penyakit jantung koroner juga bisa memiliki kesulitan untuk bernapas, mudah lelah. Saat terjadi penyumbatan pembuluh darah total dampaknya dapat memicu serangan jantung ditandai dengan perasaan sesak di dada, sulit bernapas, dan tubuh berkeringat.

Ada beberapa faktor risiko untuk penyakit jantung koroner yang tidak bisa kita kendalikan misalnya usia, kelamin, dan sejarah keluarga. Namun demikian bukan berarti penyakit jantung koroner ini sama sekali tidak bisa dicegah karena ada faktor pendukung lain yang bisa dihindari.

Mulai ubah gaya hidup dengan rajin olahraga dan hindari makanan yang tinggi lemak dan garam. Jangan lupa juga untuk jauhi rokok karena beberapa studi melihat kebiasaan ini berdampak buruk pada pembuluh darah.

Guna memastikan kesehatan tubuh, masyarakat pun diajurkan melakukan medical checkup. Idealnya medical checkup dilakukan setahun sekali atau enam bulan sekali bila resiko terjangkit semakin tinggi karena mempunyai faktor-faktor untuk mengidapnya.

BACA JUGA :  Simon McMenemy, Optimis Bhayangkara FC (BFC) Menangkan Laga Jamu Borneo FC

“Lakukan medical checkup. Untuk laki-laki di atas 30 tahun, untuk perempuan di atas 40 tahun. Jika ada faktor resiko hipertensi, masalah gula, darah tinggi, atau faktor keturunan, segera mungkin melakukan pemeriksaan dan medical checkup,” pungkasnya. (Nia/Len)