KOTA BEKASI – PT Mukti Sarana Abadi (MSA) memberikan 500 Tempat Penampungan Sementara (TPS), guna direlokasi para pedagang Pasar Jatiasih.
TPS ini berlokasi di samping pasar, kondisinya saat ini sangat layak, berupa kios dan los dengan beberapa zona yang tersedia.
Marketing PT MSA, Tio mengaku, sudah merampungkan hampir seratus persen kewajibannya sebelum melakukan revitalisasi.
“TPS untuk merelokasi dibangun dua blok. Dari dua blok tersebut kami bagi beberapa zona, sesuai dengan kebutuhan para pedagang yang sudah kita data,” tutur Tio, di Kantor MSA, sejak Kamis (14/3) lalu.
Berdasarkan informasi yang didapat, data pedagang yang mendaftar sekarang ini, melalui Kantor PT MSA, sebanyak 401 pedagang dari total 500 pedagang. Mereka bersedia direlokasi ketempat yang baru dengan harapan, proyek revitalisasi pasar bisa cepat dilaksanakan.
Tio mengatakan, sejak ditetapkan sebagai pemenang tender proyek revitalisasi Pasar Jatiasih, PT MSA sudah menjalankan seluruh kewajibannya sesuai poin yang tertuang dalam nota kesepakatan MoU mulai dari sosialisasi, menetapkan harga kios, dan mendapat persetujuan pedagang sampai menyediakan TPS.
Dari total 500 pedagang sekarang, yang menyatakan kesediaannya untuk direlokasi ada sebanyak 480 pedagang. Persetujuan ini diperoleh langsung dari pedagang melalui tanda tangan, tanpa perantara atau intervensi pihak lain.
Lanjut Tio, batas waktu MoU berakhir pada tanggal 22 Februari 2019 lalu. Ironisnya, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (DISDAGPERIN) Kota Bekasi, belum juga mengeluarkan Surat Perjanjian Kerjasama (PKS), revitaliasi Pasar Jatiasih tersebut.
“Kita sudah merampungkan kewajiban hampir seratus persen, dan sekarang masih menunggu surat perjanjian kerjasama dari Disdagperin” tambahnya.
Bahkan, PT MSA menargetkan pekerjaan proyek revitalisasi selama kurun waktu 8 bulan. Luas bangunan Pasar Jatiasih, seluas 5.100 meter persegi, dengan landscape pagar jadi 8.000 meter persegi.
“Bangunannya ada dua lantai, lahan parkir berlokadi diatas. Kita ingin kedepan pasar tidak ada lagi pedagang kaki lima (PKL), semuanya kami akomodir di dalam pasar, sehingga keadaan pasar tidak lagi terlihat padat dan menjamur,” pungkasnya. (Nia/Len)







