oleh

Adanya New Normal, IPI Jateng Harapkan Pemerintah Jangan Abaikan Tradisi Pesantren

SEMARANG, Beritapublik.co.id – Ketua Dewan Pengurus Wilayah Ikatan Pesantren Indonesia (DPW IPI) Provinsi Jawa Tengah, KH Drs Dawam Nawawi mengatakan, siap menunggu kebijakan New Normal dari pemerintah dan pihak pesantren akan menyesuaikannya dengan mempertimbangkan aturan-aturan pesantren yang sudah ada.

“Menurut hemat saya di pesantren ada dua komunitas yang saling melengkapi yaitu Kyai dan Santri yang sudah terbiasa dengan perubahan. Kami bukan golongan statis dan kaku atau membeku di dalam nostalgia peradaban masa lalu. Islam dalam artian pesantren dan masyarakat selalu menghendaki pola hidup yang adaptif,” kata Dawam Nawawi melalui rilis yang disampaikan kepada awak media, Selasa (2/6).

Menurutnya, yang bisa bertahan dalam menghadapi tatanan kondisi apa pun perubahannya adalah bukan mereka yang perkasa atau punya kuasa, tetapi mereka yang mampu beradaptasi.

“Orang-orang kecil justru yang paling mudah beradaptasi karena mereka tidak punya pertaruhan kuasa, serba ada maupun punya kekuasaan,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, kapal tanker sudah lama tidak berlayar di laut, knalpot asap pabrik yang lama tidak mengeluarkan asap hitamnya, mesin-mesin produksi di pabrik yang sudah mulai karatan dan hotel yang sudah lama kosong, mereka lah yang sejatinya berharap banyak dengan New Normal. Mereka yang sulit beradaptasi dengan kehidupan di masa pandemi. Alasan ekonomi menuju New Normal hanya menguntungkan mereka. Bagaimana dengan rakyat kecil? Apakah norma baru ini mau dipaksakan untuk semua pihak, termasuk dunia pesantren?

“Mari kalangan pesantren jangan larut dalam irama dan nada New Normal. Jangan mau sekedar latah ikut-ikutan protokol New Normal yang dibuat oleh mereka yang bahkan tidak paham dunia pesantren seperti apa. Yang mereka pikirkan cuma protokol mengatur kepulangan para santri. Tapi pendidikan karakter ala pesantren yang selama ini menjadi salah satu pilar pendidikan bangsa bisa kacau berantakan,” terangnya.

BACA JUGA :  Berikan Layanan Hukum Bagi Masyarakat, BKMB Bentuk LBH

Lebih lanjut dia berharap kalangan pesantren harus cerdas dan kreatif memikirkan apa makna New Normal untuk sistem pengajaran di pesantren.

“Mari ciptakan sendiri protokol New Normal untuk kalangan ponpes karena protokol New Normal untuk pabrik dan mall tidak cocok bagi dunia pesantren,” ungkapnya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed