oleh

Laboratorium Biomolekuler Standar WHO dan Kemenkes RI Hadir di Kota Bekasi

KOTA BEKASI, Beritapublik.co.id – Laboratorium Biomolekuler berstandar biosafety laboratorium level dua plus (BSL 2+) WHO pertama di Jawa Barat, hadir Kota Bekasi. Lab yang masih satu manajemen dengan RS Bhakti Kartini tersebut berada di Islamic Center, Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan.

Rahmat Effendi selaku Wali Kota Bekasi mengapresiasi adanya Lab BSL 2+ standar WHO milik RS Bhakti Kartini milik RS Bhakti Kartini.

 

 

“Kami apresiasi mereka yg turut berpartisipasi Laboratorium Biomolekuler BSL 2+ prinsipnya antisipasi terhadap kejadian luar biasa, yang harus kita tanggulangi, baru pertama hadir di Bekasi. Semoga, sosialisasi melalui insan pers, mampu memberikan, mengarahkan, walaupun disini dikenakan tarif terendah di masyarakat, apalagi kapasitasnya besar dapat mencapai 1.200 orang per hari,” terangnya kepada awak media, Selasa (9/2).

 

 

Pria yang akrab disapa Pepen berharap, laboratorium tersebut dapat memberikan tindakan preventif testing, trashing dan treathment bukan hanya dalam persoalan pandemi Covid 19 namun dapat memberikan equivalent potensi ancaman virus lainnya.

Menurut Pepen, latar belakang pendirian lab tersebut ialah kerja sama yang baik antara Pemkot Bekasi, RS. Bhakti Kartini dan Pemprov Jabar dalam penanggulangan pandemi Covid-19.

Sementara itu, Owner RS Bhakti Kartini, Muhammad Ikhsan Nurdjamil, mengatakan, pihaknya saat ini memiliki sumber daya manusia (SDM) dan dua alat polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi Covid-19.

“Ditingkatkan kerja sama ini untuk membangun Laboratorium Biomolekuler berstandar biosafety laboratorium level dua plus (BSL 2+) WHO. Lab ini nantinya bukan hanya untuk pemeriksaan virus seperti Covid-19 saja, tapi juga bisa berkembang untuk pemeriksaan biomolekuler yang lain, misalnya penanda tumor, kanker, meningitis, Mars, HIV, Hepatitis, TBC dan lain-lain,” ungkapnya.

BACA JUGA :  Walikota Bekasi Telah Anggarkan KBS-NIK Hingga Akhir Tahun 2018

Menurutnya, melalui sosialisasi dengan pemerintah, seperti melalui berita diluar bisnis, dan mampu memberikan pelayanan diagnosis yang cepat akurat, jangan sampai pasien covid-19, ditunda di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sampai 3 hari.

Ikhsan berharap, dengan adanya kerjasama ini, kedepannya lab ini bisa menjadi biomolekuler center yang akan mendukung pemeriksaan biomolekuler diagnostik, serta riset-riset lainnya dibidang biomolekuler.

“Semoga laboratorium ini bisa menjadi tempat pengembangan capacity building sumber daya manusia di Bekasi,” tutur Ikhsan.

Dengan diresmikan serta dibukanya lab berstandar WHO ini, Ikhsan berharap akan terjadi percepatan tracing atau penelusuran dari penyebaran Covid-19 di provinsi Jawa Barat khususnya Kota Bekasi.

“Demikian pula percepatan kinerja dalam mendiagnosa penyakit,” sebutnya.

Dijelaskan Ikhsan, setiap satu alat PCR di Lab ini mampu memeriksa per sampel maksimal 6 jam dengan jumlah alat dua mesin. Sehingga, apabila dioperasikan secara full 24 jam, bisa dilakukan tiga sesi pemeriksaan.

“Jadi itu sekitar 1.200 per sampel yang bisa diperiksa dalam 24 jam, dengan tahapan pemeriksaan standard WHO dan Kemenkes RI,” pungkasnya. (Nia/ Len)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed